Grammar Bhs Jepang
ini grammar
paling dasar.
1.Memperkenalkan
diri
biasanya klo
baru pertama kali ketemu seseorang dan ingin berkenalan. pertama bilang
`hajimemashite`
`watashi wa fidel desu`
`hajimemashite`
`watashi wa fidel desu`
watashi =
saya
`wa` itu kaya `to be` nya dalam bhs inggris.
`desu` itu ..hmmm ini fungsinya apa ya ? klo menurut gw sih supaya sopan aja.bhs formal gitu.
2.ini adalah buku
`wa` itu kaya `to be` nya dalam bhs inggris.
`desu` itu ..hmmm ini fungsinya apa ya ? klo menurut gw sih supaya sopan aja.bhs formal gitu.
2.ini adalah buku
dalam bhs
jepangnya:
`kore wa hon desu`
`kore wa hon desu`
kore=ini
hon=buku
hon=buku
temennya
kore itu ada: `sore` dan `are`
sore=itu
are= artinya itu, tapi objek yang ditunjuk jauh dari si pembicara maupun dari orang yg diajak bicara.
sore=itu
are= artinya itu, tapi objek yang ditunjuk jauh dari si pembicara maupun dari orang yg diajak bicara.
3.renshuu
shimashou (let`s pratice)
coba bikin
kalimat sederhana ini
Dia adalah
pelajar.
pelajar=gakusei
dia (wanita)=kanojo
dia (wanita)=kanojo
ja,ijou desu
ok.that`s all
ok.that`s all
GRAMMAR
BAHASA JEPANG 01
ただいま みんな:D, haha:D doumo(hug) ima, suiyoubi yone?, yowes mari kita belajar grammar bahasa jepang.
hari ini kita akan belajar grammar yg mudah aja dulu ya. kita akan belajar cara mengubah kata benda dan kata sifat na ke bentuk negatif,lampau dan negatif lampau(hug), udah ga sabar? ya udah langsung saja, here we go.
untuk mengubah nomina/kata sifat na menjadi negatif kamu tinggal menambahkan kata じゃない(janai) saja ko di akhirnya:).
dan untuk mengubahnya jadi bentuk lampau kamu tinggal menambah kata だった(datta) di akhirnya. lalu untuk bentuk negatif lampau tinggal tambahkan じゃなかった(janakatta). perhatikan kolom dibawah ini;
|
POSITIF
|
NEGATIF
|
POSITIF(lampau)
|
NEGATIF(lampau)
|
|
先生(だ)(sensei[da])=guru
|
先生じゃない(sensei janai)=bukan
guru
|
先生だった(sensei datta)=telah
guru
|
先生じゃなかった(sensei
janakatta)=telah bukan guru
|
|
有名(だ)(yuumei[da])=terkenal
|
有名じゃない(yuumei janai)=tidak
terkenal
|
有名だった(yuumei datta)=telah
terkenal
|
有名じゃなかった(yuumei
janakatta)=telah tdk terkenal
|
※bentuk negatif dari noun/kata sifat-na akan menjadi kata sifat-i, makanya dibentuk negatif lampaunya, dibuang huruf い trus di tambah かった kan? itu sama dengan aturan konjugasi kata sifat-i.
Susunan
Kata
Bahasa Inggris adalah bahasa yang
menggunakan pola Subyek-Predikat-Obyek, demikian pula bahasa Perancis dan
Spanyol.
Sedangkan bahasa Jepang adalah bahasa yang menggunakan pola Subyek-Obyek-Predikat. Pada umumnya Subyek diletakkan di awal baru kemudian obyek dan predikat pada akhir kalimat.
Sedangkan bahasa Jepang adalah bahasa yang menggunakan pola Subyek-Obyek-Predikat. Pada umumnya Subyek diletakkan di awal baru kemudian obyek dan predikat pada akhir kalimat.
|
Subyek
|
Obyek
|
Predikat
|
|
Tanaka-san
wa
Tanaka |
ringo
o
apel |
tabemasu.
makan |
|
Tom-san
wa
Tom |
terebi
o
TV |
mimashita.
menonton |
"Wa" dan "o" adalah partikel. Ini seperti dalam bahasa Inggris tetapi dipakai setelah kata benda. Partikel sangatlah penting untuk struktur kalimat bahasa Jepang yang baik.
Membuat pertanyaan dalam bahasa Jepang sangatlah mudah! Susunan katanya juga mudah. Kalimat tanya dibuat hanya dengan menambahkan partikel "ka" pada akhir kalimat. Sedangkan tanda tanya (?) tidak dipakai dalam bahasa Jepang.
|
Tanaka-san
wa
ringo o tabemasu ka. 田中さんはりんごを食べますか。 |
Apakah
Tuan Tanaka makan apel?
|
|
Tom-san
wa terebi o mimashita ka.
トムさんはテレビを見ましたか。 |
Apakah
Tuan Tom melihat TV?
|
Pola Kalimat Dasar
Belajar struktur pola kalimat dalam Bahasa Jepang. Subjek,
predikat, objek, keterangan.
Susunan kalimat dalam Bahasa Jepang
berbeda dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Dalam Bahasa Jepang,
predikat diletakkan di akhir kalimat.
Subjek - Objek - Predikat
Subjek - Objek - Predikat
Watashi wa hon o yomimasu.
わたし は ほん を よみます。
Saya membaca buku.
Subjek : Watashi. (wa adalah kata bantu. Lihat Tata Bahasa Dasar)
Objek : hon (buku)
Predikat : Yomimasu (membaca)
Partikel を o adalah untuk menghubungkan objek (kt benda) dengan kt kerja (predikat)
Lala-san wa tegami o kakimasu.
ララさん は てがみ を かきます。
Lala menulis surat.
Otoosan wa tabako o suimasu ka.
おとうさんはたばこをすいますか。
Apakah ayahmu menghisap rokok?
Hai, suimasu.
はい、すいます。
Ya, menghisap (rokok).
#Untuk membuat menjadi negatif, rubah akhiran -masu menjadi -masen.
Iie, suimasen.
いいえ、すいません。
Tidak, tidak menghisap (rokok)
Berikut adalah pola kalimat yang lebih lengkap, secara umum :
Subjek - (keterangan waktu) - (keterangan tempat) - Objek - (kt bantu) - Predikat
Okāsan wa asa resutoran de pan o sukoshi tabemasu.
Ibu pagi hari di restoran makan sedikit roti.
Subjek : Okāsan
Ket waktu : asa (pagi)
Ket tempat : resutoran de (di restoran)
Objek : pan (roti)
Kata bantu : sukoshi (sedikit)
Predikat : tabemasu (makan)
Susunan
Kata dan Kalimat dalam Bahasa Jepang
Bahasa Jepang adalah bahasa yang
menggunakan pola Subyek-Obyek-Predikat. Pada umumnya Subyek diletakkan di awal
baru kemudian obyek dan predikat pada akhir kalimat. Hal ini berbeda dengan
bahasa Inggris yang menggunakan pola Subyek-Predikat-Obyek.
Subyek, obyek dan relasi gramatika lainnya biasa ditandai dengan partikel, yang menyisip di kalimat dan disebut posisi akhir (postposition). Struktur dasar kalimat memakai cabang topik. Contohnya adalah, Kochira-wa Tanaka-san desu (こちらは田中さんです). Kochira ("ini") merupakan topik dari kalimat ini. Kata kerjanya ialah "desu" yang berarti "it is" dalam bahasa Inggris. Dan yang terakhir, Tanaka-san desu merupakan cabang atau komentar dari topik ini.
Subyek, obyek dan relasi gramatika lainnya biasa ditandai dengan partikel, yang menyisip di kalimat dan disebut posisi akhir (postposition). Struktur dasar kalimat memakai cabang topik. Contohnya adalah, Kochira-wa Tanaka-san desu (こちらは田中さんです). Kochira ("ini") merupakan topik dari kalimat ini. Kata kerjanya ialah "desu" yang berarti "it is" dalam bahasa Inggris. Dan yang terakhir, Tanaka-san desu merupakan cabang atau komentar dari topik ini.
|
Subyek
|
Obyek
|
Predikat
|
|
Tanaka-san wa
Tanaka |
ringo o
apel |
tabemasu.
makan |
|
Tom-san wa
Tom |
terebi o
TV |
mimashita.
menonton |
Dalam bahasa Jepang, kata benda tidak memiliki bentuk numeral, jenis kelamin, atau aspek lainnya. Contohnya pada kata benda hon (本) yang mungkin berarti sebuah atau beberapa buku. Juga pada kata hito (人) yang mungkin berarti orang atau sekumpulan orang. Kata untuk menyebut orang biasanya dalam bentuk tunggal, contohnya Harada-san. Kalau kata panggil jamak, biasanya disebut -tachi.
Pertanyaan mempunyai bentuk yang sama dengan kalimat afirmatif. Intonasi akan meninggi setiap akhir dari kalimat pertanyaan. Dalam situasi resmi, biasanya kalimat pertanyaan disertai partikel -ka. Contohnya, kalimat ii desu (いいです。) yang berarti "Baiklah" menjadi bentuk ii desu ka (いいですか?) yang berarti "Boleh kan?". Biasanya pada situasi tidak resmi, partikel -no (の) untuk menunjukkan penekanan, contohnya pada kalimat Doshite konai-no? yang berarti "Kenapa (kamu) tidak datang?".
Kalimat negatif dibentuk dengan merubah bentuk kata kerja. Contohnya pada kalimat Pan o taberu (パンを食べる。) yang artinya "Saya akan makan roti) menjadi Pan-o tabenai (パンを食べない。) yang artinya "Saya tidak akan makan roti".
Adjektiva
Ada tiga bentuk kata sifat dalam bahasa Jepang:
- 形容詞 (keiyoshi)
yaitu penambahan partikel -i, yang memiliki akhiran konjugasi い (i).
Contohnya: 暑い日 (atsui
hi) yang berarti "hari yang panas"
- 形容動詞 (keiyodoshi)
yaitu penambahan partikel -na. Contoh: 変なひと (henna
hito) yang berarti "orang aneh"
- 連体詞 (rentaishi)
yaitu kata sifat sebenarnya. Contoh: あの山 (ano
yama)
Partikel
Bahasa Jepang juga memiliki beberapa partikel yaitu:
- が ga untuk bentuk nominatif
- に ni untuk bentuk dativ.
- の no untuk bentuk genital
- を o untuk bentuk akusatif
- は wa sebagai topik
"San" adalah bentuk penghormatan yang ditambahkan pada sebuah nama (sehingga tidak bisa ditambahkan pada penyebutan nama sendiri0.
"Wa" dan "o" adalah partikel. Ini seperti dalam bahasa Inggris tetapi dipakai setelah kata benda. Partikel sangatlah penting untuk struktur kalimat bahasa Jepang yang baik.
Membuat pertanyaan dalam bahasa Jepang sangatlah mudah! Susunan katanya juga mudah. Kalimat tanya dibuat hanya dengan menambahkan partikel "ka" pada akhir kalimat. Sedangkan tanda tanya (?) tidak dipakai dalam bahasa Jepang.
|
Tanaka-san wa
ringo o tabemasu ka. 田中さんはりんごを食べますか。 |
Apakah
Tuan Tanaka makan apel?
|
|
Tom-san wa terebi o
mimashita ka.
トムさんはテレビを見ましたか。 |
Apakah
Tuan Tom melihat TV
|
Berikut kenyataan yang ada tentang bahasa Jepang:
(1) Bahasa Jepang mudah untuk diucapkan. Hanya terdiri dari 5 bunyi: a, i, u, e dan o.
(2) Kata benda dalam Bahasa Jepang tidak memiliki gender (tidak mengenal pria wanita) dan jarang bekaitan dengan bentuk jamal. Dalam kebanyakan kata benda bahasa Jepang, jumlah tidaklah menjadi pembicaraan utama. Satu kata bisa dipakai untuk menunjukkan satu atau banyak.
Contoh:
- hon = sebuah buku atau buku-buku
- kuruma= sebuah mobil atau banyak mobil
(3) Konjugasi kata kerja tidak terpengaruh oleh gender atau jumlah. Kata kerja yang sama bisa dipakai tanpa terpengaruh oleh obyek.
Contoh:
|
Watashi wa bideo o yoku
mimasu.
私はビデオをよく見ます。 |
Saya
sering menonton video
|
|
Kare wa terebi o yoku
mimasu.
彼はテレビをよく見ます。 |
Dia
sering menonton televisi
|
(4) Kata kerja bahasa Jepang hanya memiliki dua tata bahasa: bentuk sekarang dan bentuk lampau.Bentuk sekarang mengacu kepada tindakan kebiasaan atau yang akan datang. Bentuk lampau digunakan untuk yang sudah terjadi.
Kategori
- Balapan
(8)
- Balon
(10)
- Bangunan
(1)
- Bertani dan
Berkebun (8)
- Binatang
(8)
- Bowling
(6)
- Buah
(5)
- Cowboy
(9)
- Evil
(3)
- Fighting
(4)
- Kebakaran
(1)
- Kids Games
(1)
- Love
(1)
- Memasak
(1)
- Naga
(4)
- Pesawat
(5)
- Pet
(1)
- Petualangan
(4)
- Racing dan
Otomotif (1)
- Rias dan
Shopping (9)
- Rumah
(8)
- Soccer
(3)
- Tantangan
(1)
- War
(2)
Susunan
Kata dan Kalimat dalam Bahasa Jepang
Bahasa Jepang adalah bahasa yang
menggunakan pola Subyek-Obyek-Predikat. Pada umumnya Subyek diletakkan di awal
baru kemudian obyek dan predikat pada akhir kalimat. Hal ini berbeda dengan
bahasa Inggris yang menggunakan pola Subyek-Predikat-Obyek.
Subyek, obyek dan relasi gramatika lainnya biasa ditandai dengan partikel, yang menyisip di kalimat dan disebut posisi akhir (postposition). Struktur dasar kalimat memakai cabang topik. Contohnya adalah, Kochira-wa Tanaka-san desu (こちらは田中さんです). Kochira ("ini") merupakan topik dari kalimat ini. Kata kerjanya ialah "desu" yang berarti "it is" dalam bahasa Inggris. Dan yang terakhir, Tanaka-san desu merupakan cabang atau komentar dari topik ini.
Subyek, obyek dan relasi gramatika lainnya biasa ditandai dengan partikel, yang menyisip di kalimat dan disebut posisi akhir (postposition). Struktur dasar kalimat memakai cabang topik. Contohnya adalah, Kochira-wa Tanaka-san desu (こちらは田中さんです). Kochira ("ini") merupakan topik dari kalimat ini. Kata kerjanya ialah "desu" yang berarti "it is" dalam bahasa Inggris. Dan yang terakhir, Tanaka-san desu merupakan cabang atau komentar dari topik ini.
|
Subyek
|
Obyek
|
Predikat
|
|
Tanaka-san wa
Tanaka |
ringo o
apel |
tabemasu.
makan |
|
Tom-san wa
Tom |
terebi o
TV |
mimashita.
menonton |
Dalam bahasa Jepang, kata benda tidak memiliki bentuk numeral, jenis kelamin, atau aspek lainnya. Contohnya pada kata benda hon (本) yang mungkin berarti sebuah atau beberapa buku. Juga pada kata hito (人) yang mungkin berarti orang atau sekumpulan orang. Kata untuk menyebut orang biasanya dalam bentuk tunggal, contohnya Harada-san. Kalau kata panggil jamak, biasanya disebut -tachi.
Pertanyaan mempunyai bentuk yang sama dengan kalimat afirmatif. Intonasi akan meninggi setiap akhir dari kalimat pertanyaan. Dalam situasi resmi, biasanya kalimat pertanyaan disertai partikel -ka. Contohnya, kalimat ii desu (いいです。) yang berarti "Baiklah" menjadi bentuk ii desu ka (いいですか?) yang berarti "Boleh kan?". Biasanya pada situasi tidak resmi, partikel -no (の) untuk menunjukkan penekanan, contohnya pada kalimat Doshite konai-no? yang berarti "Kenapa (kamu) tidak datang?".
Kalimat negatif dibentuk dengan merubah bentuk kata kerja. Contohnya pada kalimat Pan o taberu (パンを食べる。) yang artinya "Saya akan makan roti) menjadi Pan-o tabenai (パンを食べない。) yang artinya "Saya tidak akan makan roti".
Adjektiva
Ada tiga bentuk kata sifat dalam bahasa Jepang:
- 形容詞 (keiyoshi)
yaitu penambahan partikel -i, yang memiliki akhiran konjugasi い (i).
Contohnya: 暑い日 (atsui
hi) yang berarti "hari yang panas"
- 形容動詞 (keiyodoshi)
yaitu penambahan partikel -na. Contoh: 変なひと (henna
hito) yang berarti "orang aneh"
- 連体詞 (rentaishi)
yaitu kata sifat sebenarnya. Contoh: あの山 (ano
yama)
Partikel
Bahasa Jepang juga memiliki beberapa partikel yaitu:
- が ga untuk bentuk nominatif
- に ni untuk bentuk dativ.
- の no untuk bentuk genital
- を o untuk bentuk akusatif
- は wa sebagai topik
"San" adalah bentuk penghormatan yang ditambahkan pada sebuah nama (sehingga tidak bisa ditambahkan pada penyebutan nama sendiri0.
"Wa" dan "o" adalah partikel. Ini seperti dalam bahasa Inggris tetapi dipakai setelah kata benda. Partikel sangatlah penting untuk struktur kalimat bahasa Jepang yang baik.
Membuat pertanyaan dalam bahasa Jepang sangatlah mudah! Susunan katanya juga mudah. Kalimat tanya dibuat hanya dengan menambahkan partikel "ka" pada akhir kalimat. Sedangkan tanda tanya (?) tidak dipakai dalam bahasa Jepang.
|
Tanaka-san wa
ringo o tabemasu ka. 田中さんはりんごを食べますか。 |
Apakah
Tuan Tanaka makan apel?
|
|
Tom-san wa terebi o
mimashita ka.
トムさんはテレビを見ましたか。 |
Apakah
Tuan Tom melihat TV
|
Berikut kenyataan yang ada tentang bahasa Jepang:
(1) Bahasa Jepang mudah untuk diucapkan. Hanya terdiri dari 5 bunyi: a, i, u, e dan o.
(2) Kata benda dalam Bahasa Jepang tidak memiliki gender (tidak mengenal pria wanita) dan jarang bekaitan dengan bentuk jamal. Dalam kebanyakan kata benda bahasa Jepang, jumlah tidaklah menjadi pembicaraan utama. Satu kata bisa dipakai untuk menunjukkan satu atau banyak.
Contoh:
- hon = sebuah buku atau buku-buku
- kuruma= sebuah mobil atau banyak mobil
(3) Konjugasi kata kerja tidak terpengaruh oleh gender atau jumlah. Kata kerja yang sama bisa dipakai tanpa terpengaruh oleh obyek.
Contoh:
|
Watashi wa bideo o yoku
mimasu.
私はビデオをよく見ます。 |
Saya
sering menonton video
|
|
Kare wa terebi o yoku
mimasu.
彼はテレビをよく見ます。 |
Dia
sering menonton televisi
|
(4) Kata kerja bahasa Jepang hanya memiliki dua tata bahasa: bentuk sekarang dan bentuk lampau.Bentuk sekarang mengacu kepada tindakan kebiasaan atau yang akan datang. Bentuk lampau digunakan untuk yang sudah terjadi.
Kategori
- Balapan
(8)
- Balon
(10)
- Bangunan
(1)
- Bertani dan
Berkebun (8)
- Binatang
(8)
- Bowling
(6)
- Buah
(5)
- Cowboy
(9)
- Evil
(3)
- Fighting
(4)
- Kebakaran
(1)
- Kids Games
(1)
- Love
(1)
- Memasak
(1)
- Naga
(4)
- Pesawat
(5)
- Pet
(1)
- Petualangan
(4)
- Racing dan
Otomotif (1)
- Rias dan
Shopping (9)
- Rumah
(8)
- Soccer
(3)
- Tantangan
(1)
- War
(2)
KAIDAH
STRUKTUR FRASA DALAM BAHASA JEPANG (Analisis Deskriptif Konstrastif: Kajian
Sintaksis) Oleh Ahmad Dahidi Pendahuluan Secara tipologis genetis, struktur
kalimat bahasa Jepang adalah SOV, yaitu predikat terletak di akhir kalimat.
Definisi ini tidak selamanya benar karena bisa pula berstruktur OSV atau OVS
contoh Hanako o Taro ga mita (OSV), dan Hanako o mita, Taro ga.
(OVS). (Tsunoda, 1990 : 4). Kedua tuturan tersebut berarti “Taro melihat
Hanako”. Contoh lain, misalnya :
(1) Inu ga neko o oikaketa
S O V „anjing‟ Pms „kucing‟ Pmo „mengejar‟
„Anjing mengejar kucing‟ Seperti diketahui, stuktur kalimat bahasa Jepang di
atas berbeda dengan stuktur kalimat bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang
berstrukur SVO. Sebagai ilustrasi contoh kalimat berikut:
(2) Anjing mengejar kucing
S V O (3) A dog chased a cat S V O Pada
kenyataannya, dalam bahasa Jepang sering ditemukan urutan kalimat bukan SOV
tetapi VSO atau dapat pula berstruktur OSV seperti contoh (4), (5) dan (6)
berikut ini. (4) Oikaeta (yo), inu ga neko o. mengejar-past anjing Pms kucing
Pmo (5) Neko o, inu ga oikaketa. Kucing Pmo, anjing Pms mengejar-past (6) inu
ga oikaeta (yo), neko o. anjing Pms mengejar-past, kucing Pmo
Kalimat (4) s.d.(6) bahasa Jepang di atas dengan
berbagai variasi urutan kata dan bentuk kata yang tidak mengalami perubahan,
secara semantis, bermakna sama meskipun terjadi 2
permutasi
antara subjek dengan predikatnya atau antara subjek dan objeknya. Lain halnya,
bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, apabila permutasi itu terjadi, maka makna
kalimat (7) di bawah ini akan berbeda dengan makna kalimat (2) dan (3) atau
hasil permutasi itu mengakibatkan kalimat tersebut tidak gramatikal seperti
nomor (9) dan (10). (7) Kucing mengejar anjing; atau (8) A cat chased a dog;
(9) *) A dog a cat chased; atau (10) *) Chased a dog a cat. (bandingkan dengan
kalimat (3)‟. Fenomena kebahasaan seperti ini dapat terjadi pula pada tataran
frasa. Misalnya take no ko „rebung‟, ada yang menganggap sebagai frasa
dan ada pula yang berpendapat bahwa itu adalah kata. 1.1 Gambaran Umum Frasa
Frasa dalam sejarah linguistik digunakan dengan pengertian yang
berbeda-beda (Chaer: 1994: 222). Namun, lazimnya dalam tataran sintaksis
didefinisikan sebagai satuan bahasa yang berada satu tingkat di bawah satuan
klausa, atau satu tingkat berada di atas satuan kata (ibid, 222). Kaidah
struktur frasa dipahami sebagai hubungan antarunsur yang dapat membentuk frasa.
Pembagian frasa berdasarkan unsur yang menyangkut kelas kata menunjukkan adanya
frasa nominal (FN), frasa verbal (FV), frasa adjektival (FAdj), dan frasa
adverbial (FAdv) berikut posposisi (FP) yang memarkahinya. Frasa terbagi atas
dua bagian yaitu konstituen inti (head) yang berfungsi sebagai pusat dan
bersifat obligatori (wajib hadir), dan konstituen lainnya sebagai modifikator
(modifier). Unsur unsur yang terdapat dalam frasa tersebut mempunyai hubungan
sintaksis dan semantik. Kridalaksana (1993:139) menyatakan bahwa modifier
adalah konstituen yang membatasi, memperluas, atau menyifatkan suatu induk
dalam frasa, sedangkan modifier merupakan unsur yang menerangkan makna dalam
inti.
Dalam bahasa Indonesia terdapat dua istilah
yaitu frasa (Kridalaksana, 1984) dan frase (Daniel Parera;
Djajasudarma, Chaer, dll) sedangkan dalam bahasa Jepang hanya satu, yaitu : ku.
Pada dasarnya baik istilah frasa, frase, maupun ku mengacu pada referen
yang sama. Pada tulisan 3
ini digunakan
istilah frasa baik untuk tataran frasa bahasa Indonesia dan Inggris
maupun pada maupun bahasa Jepang. Ku „frasa‟ dalam bahasa Jepang sering
dipertentangkan dengan go „kata‟. Pada konteks tertentu tidak terdapat
perbedaan yang jelas antara ku dan go ini. Misalnya pada take
no ko „rebung‟ (Sunda : iwung). Koizumi (1995 : 157) mempertanyakan,
apakah kata tersebut termasuk kata atau frasa?. Ataukah kata tersebut terdiri
atas satu kata atau tiga kata, yakni take „bambu‟, no (pemarkah
posesif), dan ko „anak-anak‟. Seandainya take no ko tersebut
dilihat dari sudut pandang fonemis (dalam hal ini aksen), take termasuk
bentuk heibangata, dan tekanan yang kuat/tinggi jatuh pada suku kata
kedua dan ko dilafalkan rendah. Tetapi apabila take no ko tersebut
dianggap satu kata, maka secara keseluruhan termasuk heibangata.
Fenomena yang sama terjadi pula dalam bahasa Inggris. Misalnya a green house
dan a greenhouse, yang masing-masing berarti „rumah berwarna hijau‟,
dan „kamar yang bersuhu panas‟. Dengan demikian, apabila tekanan aksen jatuh
pada suku pertama pada house tersebut, maka antara green dan house
merupakan dua kata yang berbeda sehingga bisa dikatakan sebuah frasa.
Tetapi apabila tekanan tersebut diletakkan pada kedua kata tersebut, maka
dianggap sebagai satu kata majemuk. Meskipun ada beberapa persoalan bahasa yang
dapat dipecahkan dengan parameter aksen tersebut, tetapi terdapat ekspresi jack-in-the-box
„kotak ajaib‟ yang tidak bisa dipecahkan dengan aksen seperti a green
house di atas. Oleh sebab itu, untuk memperjelas keterbatasan kata-kata
seperti itu dapat digunakan kaidah separability. Untuk menguji kaidah
ini, yakni dengan cara intuisi dan permutasi, misalnya a boy menjadi .. a
tall boy „pemuda yang berbadan tinggi‟, a very tall boy „ pemuda
yang berbadan sangat tinggi‟. Dengan demikian antara definite a dan
nomina boy dapat diselipkan kata yang lain. Apabila dengan cara seperti itu
hasilnya diterima (gramatikal), berarti kaidah separability tersebut
berlaku, dan dijamin bahwa yang diamati tersebut adalah sebuah kata. Dengan
demikian, definite a dalam bahasa Inggris dapat diperlakukan sebagai
satu kata yang mandiri.
Persoalan yang mirip dengan hal di atas, adalah
partikel ga dalam bahasa Jepang. Misalnya : yama ga…., yama made
ga…., yama kara ga…., dan yama dake ga…., yang masing-masing berarti
„gunung‟, sampai [di] gunung, „dari gunung‟, dan „hanya gunung‟. Dengan
demikian, antara yama „gunung‟ dengan partikel ga, dapat
diselipkan partikel lain seperti made, kara, dan dake. Fenomena
yang sama dalam bahasa Indonesia, terutama untuk membedakan antara frasa dan
kata dilihat dari bentuknya bahwa unsur pembentuk frasa bahasa Indonesia
4
harus berupa
morfem bebas. Oleh sebab itu, konstruktusi belum makan dan tanah
tinggi adalah frasa; sedangkan konstruksi tata boga bukan frasa,
karena boga adalah morfem terikat (lihat Chaer 1994, 222). Selanjutnya,
Chaer menjelaskan perbedaan kata dan frasa, yaitu kata mempunyai keeratan yang
sangat mesra sehingga tidak bisa diselipi unsur lain; sedangkan frasa cukup
longgar. Misalnya, konstruksi nenek saya merupakan frasa sebab bisa
diselipi kata dari menjadi nenek dari saya. Penyelipan ini tidak
dapat dilakukan terhadap kata. Fenomena seperti ini sama halnya seperti dalam
bahasa Jepang dan bahasa Inggris yang telah diuraikan sebelumnya. Satu hal yang
perlu ditekankan di sini adalah partikel dalam bahasa Jepang memerlukan nomina
yang menjadi atesendennya (yang diacu/diikuti) karena fungsi partikel dalam
bahasa Jepang merupakan penanda „marker‟ dari sebuah nomina. Oleh sebab itu,
berbeda dengan article bahasa Inggris, partikel bahasa Jepang tidak
dapat diperlakukan sebagai kata yang berdiri sendiri. Takebe (1950) menyebutnya
masing-masing yama sebagai kata yang dapat berdiri sendiri (Jepang : jiritsugo),
dan partikel (dalam hal ini ga) adalah fuzokugo „kata yang tidak
dapat berdiri sendiri‟. Cara kedua dari kaidah separability yaitu
permutasi, yaitu memindahkan letak kata. Misalnya dalam bahasa Perancis persona
pertama je „saya‟ pada kalimat deklaratif Je suis heureux „saya
bahagia‟ dapat menjadi kalimat interogatif seperti Suis-je heureux ?
„apakah mungkin saya [ini] bahagia ?‟. Permutasi seperti itu, yakni urutan kata
je suis pada kalimat deklaratif itu dimungkinkan dan hasilnya diterima,
maka berarti kaidah separability tersebut dapat diberlakukan pada
tataran tersebut. Dalam bahasa Jerman pun hal ini dapat terjadi pada tataran
verba. Misalnya, verba vorfinden „melihat‟. Perhatikan contoh berikut :
(11) Ich fand dort meinen Freund vor.
„Saya telah melihat teman saya ada di sana‟
Yang dimaksud permutasi pada tataran verba di
sini adalah vor dan verba finden. Karena kedua kata tersebut
dapat dipisahkan, maka seharusnya vor bukan digolongkan pada prefiks,
tetapi harus dianggap sebagai kata, yakni sebagai preposisi. Fenomena yang
hampir mirip dengan bahasa Jerman tersebut, terutama permutasi pada kategori
verba, sepengetahuan penulis tidak ada dalam bahasa Jepang. Seandainya terjadi
permutasi pada verba bahasa Jepang, maka preposisi (Jepang: joshi ‟partikel‟
selalu melekat pada objek yang dirujuknya. Hal ini bisa dibuktikan pada contoh
(4), (5), dan (6) di atas. 5
Bagaimana
definisi frasa versi lain?. Misalnya, dijelaskan Kridalaksana (1984) bahwa
frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif;
gabungan itu dapat rapat, dapat renggang; mis, gunung tinggi adalah
frasa karena merupakan konstruksi non-predikatif; konstruksi ini berbeda dengan
gunung itu tinggi yang bukan frasa karena bersifat predikatif. Parera
(1993 : 32) menjelaskan bahwa frasa adalah suatu konstruksi yang dapat dibentuk
oleh dua kata atau lebih, baik dalam bentuk sebuah pola dasar kalimat maupun
tidak. Dengan demikian, sebuah frasa sekurang-kurangnya mempunyai dua anggota
pembentuk. Anggota pembentuk ialah bagian sebuah frasa yang terdekat atau
langsung membentuk frasa itu, sedangkan Verhaar (1999 : 291) memberi batasan
bahwa frasa adalah kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan
yang lebih panjang. Misalnya : secara lebih mendalam adalah frasa
adverbial, dengan frasa ajektival lebih mendalam sebagai bagian
daripadanya - frasa terkandung; akan membahas adalah frasa verbal; kemampuan
menilai prestasi belajar siswa adalah frasa nominal, dengan frasa verbal;
terkandung di dalamnya, yaitu menilai prestasi belajar siswa, dan di
dalam frasa verbal tersebut terdapat frasa nominal yang terkandung lagi, yaitu prestasi
belajar siswa, dan di dalamnya prestasi belajar, dan untuk
kepentingan pengajaran yang lebih baik adalah frasa preposisional, dan di
dalamnya ada frasa nominal kepentingan pengajaran yang lebih baik,
sedangkan di dalam frasa nominal terakhir ada frasa ajektival yang lebih
baik. Yang dimaksud “frasa adalah bagian fungsional” oleh Verhaar yaitu
apabila frasa tersebut menyatakan bahwa bagian ini berfungsi sebagai konstituen
di dalam konstituen yang lebih panjang (ibid: 291). Sebagai contoh secara
lebih mendalam adalah konstituen keterangan yang memodifikasi verba membahas.
Sebaliknya, dalam urutan kata mendalam kita, atau pengajaran yang,
tidak merupakan frasa karena tidak merupakan bagian fungsional di dalam
konstituen yang lebih panjang. Dengan demikian, Verhaar memberikan batasan,
bahwa untuk menentukan sebuah frasa dapat dilihat dari ektrafrasalnya dan
intrafrasalnya. (lihat Verhaar: 292 – 293). Dari uraian di atas, tampaknya
sepakat bahwa sebuah tuturan dikatakan frasa harus memenuhi syarat : pertama
dibentuk oleh dua kata atau lebih; kedua harus terdapat hubungan
yang gramatikal antara kata-kata tersebut, yang istilah Verhaar fungsional, dan
ketiga letak kata-kata tersebut tidak selalu rapat atau berdampingan. 2.
Jenis jenis Frasa Bahasa Jepang 6
Klasifikasi
frasa dalam bahasa Jepang berdasarkan kelas kata, antara lain frasa nominal,
frasa verbal, dan frasa ajektival. 2.1 Frasa Nominal Frasa nominal dalam
bahasa Jepang terdiri dari nomina dan partikel. Agar lebih mudah memahami
struktur frasa nominal bahasa Jepang akan diacu struktur frasa nominal bahasa
Inggris sebagai berikut.
(12) My two white silk gloves
„watashi no‟ „futasu no‟ „shiroi‟ „nuno no‟
„tebukuro‟ „sarung tangan sutra saya dua buah‟ Berbeda dengan bahasa Inggris,
urutan kata pada frasa nominal bahasa Jepang di atas dapat terjadi permutasi
antara ajektiva shiroi „putih‟, numeralia „futatsu no‟, dan pronomina
posesif watashi no „kepunyaan saya‟, dengan tidak mengubah makna frasa
tersebut. Dengan demikian, frasa tersebut bisa menjadi futasu no shiroi kono
nuno no tebukuro atau menjadi shiroi kono futsu no nuno no tebukuro. Pendek
kata, dalam bahasa Jepang berlaku kaidah scrambling rules, yakni
permutasi letak unsur-unsur yang relatif bebas. Meskipun demikian, apabila nuno
no „kain sutra‟ dipindahkan di awal frasa tersebut, secara semantis akan
berubah makna. Artinya, makna frasa tersebut bukan lagi berarti „dua buah
sarung tangan sutra kepunyaan saya‟, tetapi menjadi dua buah sarung tangan ini
terbuat dari sutra „nuno no kono futatsu no tebukuro‟. Scrambling rules ini
tidak berlaku pada kelas kata yang tergolong majemuk. Misalnya pada kata
kyuukoo ressha „ kereta api cepat‟. (kyuukoo „ cepat‟, dan ressha
„ kereta api‟). Perlu dijelaskan bahwa permutasi numeralia pada tataran
frasa nominal bahasa Jepang, tidak terbatas pada bilangan nominal seperti 1, 2,
3, …dst. tetapi bisa pula hitotsu gurai „kira-kira sebuah‟, futsu
hodo „kira-kira dua buah‟, atau kelompok kata lain seperti takusan‟
banyak‟, sukunai‟ sedikit‟, dll. Perhatikan contoh berikut : (13) a.
Asoko ni 3 nin no kodomo ga asonde iru. „ sana‟ „di‟ 3 „orang‟ „anak-anak‟
„bermain‟ „sedang‟ „ Di sana [ada ] tiga orang anak sedang bermain‟
b. Asoko ni 3 nin kodomo ga asonde iru. (tanpa
pemarkah no antara 3 nin
dengan kodomo)
c. Asoko ni kodomo 3 nin ga asonde iru
(numeralia 3 nin diletakkan setelah
7
kodomo)
d. Asoko ni kodomo ga 3 nin asonde iru (3 nin
diletakkan setelah pemarkah
ga)
Permutasi seperti di atas disebut suuryooshi
no ukidoo (floating quantifier). Seperti tampak pada contoh di atas,
numeralia dalam bahasa Jepang dapat berpindah-pindah tempat. Meskipun contoh di
atas gramatikal, namun dilihat dari segi kelaziman, kalimat (b) dan kalimat (d)
yang lebih umum.
2.2 Frasa Verbal
Frasa verbal berhubungan dengan auxilliary
verb (jodooshi). Dalam bahasa Inggris, Haliday & Hassan (1976)
membagi frase verbal berdasarkan pada hierarki katagori gramatika, yakni : Modal
(1) + Tense + hitei + Modal (2) + Aspect (1) + Aspect (2) + Voice + Verb. Yang
dimaksud Modal (1) seperti will, may, must, can, dan sejenisnya. Modal
(2) seperti have to (= must), be able to, (=can),
dan sejenisnya. Sedangkan Aspect (1) adalah pola have bentuk selesai + past
tense, dan Aspect (2) berpola be dalam bentuk sekarang + present
tense. Contoh lain pola frasa verbal misalnya: (14) He will have to be watched
Modal (1) will + Tense (present tense) + Modal (2) have to + Voice (aktif) „ Ia
mungkin harus mengawasinya‟ (15) He won‟t be watched. Modal (1) will + Tense +
bentuk sangkal + Voice (aktif) Itulah contoh sederhana pola frasa verbal bahasa
Inggris dilihat dari kategori gramatika bahasanya. Berikutnya kita lihat frasa
verbal dalam bahasa Jepang. Koizumi (1993) memberikan pola struktur frasa
verbal dalam bahasa Jepang sebagai berikut.
(1) Verba + kausatif + Voice + Aspect (1) +
Aspect (2) + bentuk sangkal + Tense + Modal (1) + Modal (2). Contoh frase
verbal tersebut dapat dilihat pada contoh berikut :
- Kaka . se . rarete . i . ta . nichigainai .
daroo Verba kausatif pasif aspect (2) kontinuatif + tense (past) + Modal (1) +
Modal (2).
Perlu dijelaskan bahwa modal dalam bahasa Jepang
dibagi dua, yakni ninshikiteki hoo „ dan gimutekihoo. Yang
dimaksud dengan ninshikitekihoo dalam bahasa Inggris adalah epistemic
8
expression yaitu makna sebuah tuturan merupakan hasil pengamatan si penutur
terhadap suatu fakta, sedangkan gimutekihoo „ diontic expression’ adalah
makna tuturan yang merupakan fakta yang menjadi kenyataan. Dalam bahasa Jepang
yang berkaitan dengan epistemic expression selalu bersambung dengan jodooshi
„auxilliary verb‟ seperti soo da, yoo da, rashii, daroo (deshoo),
mai. Sedangkan yang bergabung dengan „ diontic expression‟ seperti tai.
Dalam hal ini, untuk yoo sebagai expresi untuk mengungkapkan
harapan/keinginan dan mai yang mengutarakan harapan yang bersifat
menyangkal dikelompokkan pada meireihoo „ modal perintah‟. Mengenai
bentuk tai yang digunakan untuk persona pertama pada kalimat koohii
ga (o) tabetai, hoshi yang digunakan untuk merngungkapkan keinginan
persona kedua dan ketiga, termasuk pada diontic expression. Selain itu,
terdapat pula beberapa frase yang bersifat idiomatik yang mengutarakan modal
dari masing-masing kelompok modal di atas, yakni :
a) Epictemic expression : ni chigainai „tidak salah lagi‟; kamoshirenai „mungkin
saja‟; hazu dearu „sudah semestinya‟; hazu ga nai „tidak
mungkin‟.
b) Diontic expression : nebanaranai’ harus’; shinakutewa ikenai „harus‟; subeki dearu ’seharusnya‟;
sezaru o enai ‟sudah sewajarnya‟; suru hitsuyoo ga nai‟ tidak perlu
dilakukan‟; shite mo yoi „boleh juga dilakukan‟; shite wa ikenai ‟tidak
boleh dilakukan‟ ; subeki de nai „tidak seharusnya dilakukan‟..
Untuk lebih memahami uraian di atas, kita
bandingkan dengan hoojodooshi (auxeraly verb) bahasa Inggris.
(a) epistemic expression
must : nichigainai; hazu dearu. May : kamo
shirenai; suru koto ga ariuru Cannot : hazu ga nai; suru koto wa arienai Will :
daroo; rashii; yooda; soo da.
(b) diontic expression
must : nakereba naranai; shinakute wa ikenai;
subeki de aru; sezaru o enai. May : shite mo ii Need not : suru hitsuyoo nai;
suru koto wa nai. Must not : shite wa naranai;’ subeki de nai. 9
Di atas telah
dibahas secara terpisah antara epistemic expression dan diontic
expression. Sebenarnya dalam bahasa Inggris terdapat gabungan antara kedua
ekspresi tersebut, misalnya will have to „shinakereba naranai daroo‟ dan
may have to „shinakereba naranai ka mo shirenai. 2.3 Frasa Adjektival
Frasa ajektival (adjectival phrase) adalah frasa endosentris
berinduk satu yang induknya ajektiva dan modifikatornya adverbia, seperti sangat,
lebih, kurang, dsb. Contoh : lebih baik. Kaitannya dengan frasa
adjektival ini, dalam bahasa Jepang dapat dijelaskan sebagai berikut. Adjektiva
adalah kata-kata yang mengutarakan perasaan, keadaan, sifat sesuatu yang
berkaitan dengan orang, benda atau suatu hal. Dalam bentuk prenomina (sebagai
pewatas) berakhiran dengan suara i. Adjektiva dalam bahasa Jepang (dalam
hal berfungsi sebagai pewatas) seperti pada contoh wakai hito „orang
muda‟, takai yama „ gunung yang tinggi‟, sabishii mura „ kampung
yang sepi‟, dll., sama seperti halnya dalam bahasa Inggris dalam kata young,
high, lonely, dll. Namun secara morfologis, apalagi ketika adjektiva bahasa
Jepang berfungsi sebagai predikat berbeda dengan bahasa Inggris seperti contoh
berikut anohito wa wakai „orang itu muda‟, fujisan wa takai „gunung
Fuji tinggi‟, sono mura wa sabishii „ kampung itu sepi‟. Seperti halnya
adjektiva i, dalam bahasa Jepang ada yang disebut dengan adjektiva na.
Adjektiva ini mengutarakan perasaan, keadaan, dan sifat orang, benda atau suatu
hal. Secara morfologis adjektiva na berbeda dengan adjektiva i ketika ia
berfungsi sebagai rentaikei „prenomina‟ seperti contoh berikut genkina
hito „orang yang sehat‟, rippana yama „ gunung yang megah‟. Sedangkan
dalam bentuk shuushikei „bentuk akhir‟ diikuti kopula da, desu,
atau de gozaimasu. 3. Kaidah Struktur Frasa dalam Bahasa Jepang Morita
(1988) mengemukakan bahwa pada dasarnya, secara “fisik” sebuah ujaran dalam
berbagai bahasa adalah rangkaian bunyi. Jika ujaran tersebut dituliskan dengan
tanda fonetik tersebut, maka pembaca akan kesulitan memahami kalimat tersebut
(kecuali linguis yang memahami tanda fonetik tersebut), tetapi jika
ditranskripsikan dengan memakai huruf Romawi (Latin) misalnya, akan diketahui
bahwa rangkaian bunyi yang dimaksud adalah seperti kalimat berikut : (16) Tobu
senshuu ga ookina hoomuran o utta. S O P 10
„Tobu‟ „pemain‟
Pms „besar‟ „home run‟ Pmo „memukul-past‟ „ Pemain Tobu telah memukul home
run dengan kerasnya. Dari kalimat (16) tersebut, apabila diperhatikan
terdiri dari tiga kelompok kata, masing-masing sebagai subjek terdiri dari Tobu,
senshuu, dan pemarkah ga, objek terdiri dari kata ookina,
hoomuran, dan pemarkah o, dan predikat kata utta (bentuk
lampau dari verba utsu „memukul‟). Ketiga kelompok kata tersebut
membentuk kesatuan. Tobu senshu ga adalah frasa nominal, ookina
hoomuran o adalah frasa nominal (sebagaian linguis Jepang menyebutnya meishisetsu
(harfiah : klausa nomina. Secara bentuk hampir mirip dengan frasa prepositional
dalam bahasa Inggris), sedangkan utta adalah frasa verbal. Dengan
demikian, kalimat tersebut pada dipilah menjadi contoh (17) berikut : (17) Tobu
senshuu ga/ookina hoomuran o/utta/ Apabila dipilah seperti contoh (18) dan
(19), maka kalimat tersebut tidak berterima sebagai kalimat yang runtut di
dalam bahasa Jepang.
(18) *) Tanaka
senshuu/ga ookina hoomuran/ o utta/
(19) *) Tobu senshuu ga ookina/hoomuran o utta/
Pemilahan kelompok kata tersebut berkaitan
dengan fenomena gramatika bahasa Jepang, yaitu untuk menentukan kegramatikalan
sebuah kelompok kata (frasa) dalam bahasa Jepang adalah dengan disisipkannya
partikel ne atau sa pada frasa tersebut. Artinya, apabila alat
tes ini dapat disisipkan pada kelompok kata itu, maka kelompok kata itu
dikatagorikan sebuah frasa. Dengan demikian, contoh di atas dapat dibuat
seperti contoh (20).
(20) Tobu senshuu ga/ne/ ookina hoomuran o/ne/
utta/yo
Dasar pemilahan ini, dapat dijadikan acuan untuk
dilakukan permutasi pada sebuah kalimat. Dengan demikian, kalimat di atas bisa
menjadi kalimat nomor (21) berikut :
(21) /ookina hoomuran o/Tobu senshuu ga/utta.
Sebenarnya, frasa Tobu senshuu ga dapat
dipilah lagi menjadi Tobu senshuu dan ga, ookina hoomuran o menjadi
ookiina hoomuran dan partikel o. Dengan demikian bisa terjadi
pemilahan seperti contoh (22).
(22) //Tobu senshuu //ga// // ookina hoomuran //
o /// utta/
Kedua partikel yaitu ga dan o di
atas merupakan penanda frasa baik untuk frasa nominal, frasa ajektifal, maupun
frasa-frasa yang lainnya. 11
Seperti
dijelaskan di muka, bahwa frasa ookina hoomuran terdiri dari konstituen ookina
dan hoomuran, namun pemisahan seperti itu tidak benar karena ookina
„besar‟ menerangkan konstituen hoomuran „home run‟ sebagai pemadu
mesra (sebagai atributif), bukan menerangkan konstituen hoomuran o. Oleh
sebab itu kalimat di atas dapat dipilah lagi menjadi contoh (23).
(23) // Tobu senshuu // /// ga ookina //
hoomuran // / o // / utta/
Bahkan nomor (23) tersebut dapat dirinci lebih
kecil lagi. Misalnya Tobu senshuu menjadi Tobu dan senshuu, dan
ga ookina menjadi ga dan ookina. Namun pemilahan seperti
itu adalah bagian morfologis, sedangkan pada tataran sintaksis cara seperti itu
tidak dilakukan/digunakan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kalimat
itu dibangun oleh sejumlah kata-kata yang membentuk perpaduan yang apik,
kemudian perpaduan itu membentuk perpaduan yang lebih besar lagi, dan akhirnya
membentuk suatu level yang lebih tinggi lagi, yang dikenal dengan sebutan
kalimat. Perlu dijelaskan bahwa kaidah stuktur frasa atau dalam bahasa Jepang
disebut ku koozoo kisoku (Inggris : phrase structure rules,
disingkat P-rules. Ada pula yang menyebut istilah consituent
structure rules adalah seperangkat kaidah yang menggambarkan struktur frasa
dengan ciri khasnya dapat berbentuk pengembangan „expansion‟ atau berbentuk
substitusi „ subtitution‟ atau replacement. Ilustrasi frasa yang
berbentuk pengembangan seperti A---B + C, berbentuk subtitusi seperti A ---- B.
Misalnya kalimat „sentence‟ bahasa Inggris terdiri dari NP sebagai subjek dan
VP sebagai predikatnya. Dengan demikian, dapat diilustrasikan bahwa struktur
frasa tersebut adalah S ---- NP + VP. Sementara itu, VP sendiri bisa terdiri
dari V (verb) dan NP sebagai objeknya. Untuk ini, dapat diilustrasikan : VP
----- V + NP. VP ini dapat pula hanya terdiri atas V, terutama verba
intransitif. Untuk ini, dapat diilustrasikan menjadi VP ---- V. Ilustrasi lain
seperti berikut : VP ---- V + NP. V Dengan uraian singkat di atas, dapat
disimpulkan bahwa struktur frasa bahasa Inggris sebagai berikut :
a. S ---------- NP
+ VP
b. VP -------- V +
NP
c. VP -------- V
d. VP -------- V + NP
V 12
Sedangkan struktur
frasa bahasa Jepang sebagai berikut : a. S ---------NP VP Aux b. VP
---------(NP) V Aux. c. NP ---------NP Po d. NP --------- (A) N Apabila kita
perhatikan stuktur frasa kedua bahasa cukup berbeda, yang menonjol dalam bahasa
Jepang adalah terdapat Aux pada struktur kalimat, urutan terbalik dengan bahasa
Inggris pada struktur VP, dan adanya Po pada stuktur NP, sedangkan dalam bahasa
Inggris tidak ditemukan urutan seperti itu. Berikut ini adalah gambaran singkat
seputar frasa nominal dan frasa verbal dalam bahasa Jepang. 4. Kaidah
Struktur Frasa Bahasa Indonesia Di dalam bahasa Indonesia, terdapat empat
kategori kelas kata utama, yaitu verba (V), nomina (N), Adjektiva (Adj), dan
Adverbia (Adv). Selain itu, terdapat kelas kata lainnya, yaitu kata tugas yang
terdiri atas preposisi (Prep), konjungsi (Konj), dan partikel (Part). Melalui
teknik perluasan, N,V, dan Adj dapat diperluas dengan kata lainnya sehingga
membentuk satuan frasa. Misalnya, N dapat diperluas dengan menambahkan N
lainnya (N1 + N2), sehingga membentuk frasa nominal (FN). Misalnya N gedung,
dapat diperluas dengan menambahkan kata sekolah sehingga membentuk FN gedung
sekolah N dengan Adj dapat membentuk frasa adjektival (F Adj). Misalnya, N gedung
tersebut bila dibubuhi Adj bagus membentuk F Adj gedung bagus. Frasa
preposisional (F Prep) dibentuk melalui perluasan preposisi dengan kata atau
frasa lainnya . Hal yang sama berlaku pada V yang menjadi frasa verbal (FV).
Misalnya frasa sedang mengajar pada kalimat, Beliau sedang mengajar.
Pembentukan frasa preposisi (F Prep) diungkapkan melalui konstituen preposisi
dengan kata lainnya. Misalnya frasa di perpustakaan dalam kalimat Yamada
sedang membaca di perpustakaan.
Seluruh contoh-contoh frasa yang telah
dikemukakan tersebut menunjukkan bahwa frasa sebagai bagian fungsional memiliki
struktur ekstrafrasal dan struktur intrafrasal. Dikatakan berstruktur
ekstrafrasal karena fungsi frasa merupakan konstituen di dalam konstituen yang
lebih menyeluruh. Yang dimaksud dengan berstruktur intrafrasal adalah untuk
menentukan tipe atau 13
jenis frasa.
Misalnya, FN memiliki N sebagai konstituen inti dan konstituen lainnya sebagai
modifier. Struktur F Prep menunjukkan bahwa preposisi berfungsi sebagai inti
dan konstituien lainnya sebagai modifier.
5. Kaidah Struktur Frasa Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris dan Kaidah Struktur Frasa Bahasa Jepang
Seperti telah dikemukakan terdahulu, secara
tipologis, pola urutan kata dalam kalimat bahasa Jepang berbeda dengan bahasa
Inggris dan bahasa Indonesia. Bahasa Jepang memiliki struktur SOP sehingga
modifier selalu mendahului konstituen inti sedangkan bahasa Inggris dan bahasa
Indonesia berpola SPO (modifier mengikuti inti). Oleh sebab itu, kaidah
struktur frasa (dan kalimat) dari ketiga bahasa tersebut memiliki pola yang berlainan.
Tsujimura (1998) menyatakan bahwa struktur frasa bahasa Jepang memiliki kaidah
yang berbeda dengan struktur bahasa Inggris dengan penjelasan-penjelasan
sebagai berikut. Struktur frasa bahasa Inggris memiliki kaidah sebagai berikut:
Kal FN + FV FN N (FN) (F Adj) FV V (FN) (FN) FP P + FN Struktur frasa
bahasa Jepang memiliki kaidah sebagai beriku. Kal FN + FV FN (FN) (F Adj) + N
FV (FP) (FN) (FP) (FN) + V FP FN + P Berdasarkan kaidah struktur frasa versi
Tsujimura tersebut dinyatakan bahwa: Struktur kalimat (K) dalam bahasa Jepang
dan bahasa Inggris/ bahasa Indonesia memiliki persamaan pola kalimat yaitu FN +
FV. FN dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia terdiri atas konstituen inti
dalam bentuk N yang dapat diikuti secara opsional oleh FN dan/atau F Adj . FN
dalam bahasa Jepang terdiri atas N (inti) yang secara opsional dapat diikuti
oleh FN dan/atau F Adj.
FV dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia
terdiri atas V sebagai konstituen inti yang 14
dapat diikuti
secara opsional oleh FN dan/atau FV. FV dalam bahasa Jepang dapat terdiri atas
FP, FN, FP,FN (opsional) yang hadir mendahului V (obligatori) FP dalam bahasa
Inggris dan bahasa Indonesia terdiri atas preposisi (P) yang diikuti oleh FN .
FP dalam bahasa Jepang terdiri atas FN yang diikuti P sehingga bersifat
posposisional Misalnya, contoh kalimat (27) dan (28) dapat dikaji dengan
menggunakan kaidah struktur frasa berikut.
(24) Gakusei ga kita.
Murid Pem.S tiba (lampau) „Murid (murid)
telah tiba.’
K
FN FV
N F Gakusei ga kita
(25) Kodomo ga kouen de asonda.
Anak Pem.S taman di bermain ‘Anak (anak)
bermain (lampau) di taman.’
K
FN FV
N FP V
FN P
Kodomo ga kouen de asonda 15
Contoh kalimat
(27) menunjukkan bahwa kalimat tersebut terdiri atas FN/N gakusei ga dan
FV/V kita. Pada contoh (28), kalimat terdiri atas FN/N kodomo ga,
FV terdiri atas FP dan V asonda, FP terdiri atas FN/N kouen dan P
de. 5. Simpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
struktur frasa bahasa Jepang, pada umumnya lekat kiri dari intinya. Hal ini
merupakan perbedaan yang mendasar antara bahasa Jepang dengan bahasa Inggris
atau bahasa Indonesia. Meskipun demikian, kekhasan ini bukan berarti tidak
terdapat pada bahasa-bahasa yang lainnya karena struktur yang sama dapat
diamati pada bahasa Korea, bahasa Cina, bahasa Turki, dll. Seperti dijelaskan
di muka bahwa struktur frasa bahasa Jepang merupakan salah satu kajian yang
relatif masih kurang diperhatikan oleh para pemerhati bahasa Jepang. Padahal
masalah ini sangat penting sebagai acuan untuk pembelajaran bahasa Jepang baik
untuk kepentingan praktis maupun teoritis kajian kebahasajepangan. Dari hasil
kajian tersebut ditemukan bahwa pewatas struktur dasar frasa bahasa Jepang
adalah partikel. Dengan perkataan lain, sebuah kelompok kata dikatakan frasa
apabila ditandai dengan partikel. Partikel ini sangat bervariatif bergantung
pada fungsinya antara lain apabila memarkahi subjek ditandai dengan pemarkah ga,
objek ditandai dengan pemarkah o, sebagai datif bisa ditandai pemarkah ni
atau kara, dan sebagainya. Dengan demikian, pemarkah-pemarkah itu
menjadi patokan atau kaidah utama dalam penentuan frasa, terlebih-lebih ketika
dilakukan permutasi pada tataran frasa tersebut. Secara umum, kaidah frasa
bahasa Jepang sebagai berikut : 1. S ---------NP VP Aux 2. VP --------- (NP) V
Aux. 3. NP ---------.NP Pmo Hal ini cukup berbeda dengan bahasa Inggris :
1. S ---------- NP
+ VP
2. VP -------- V +
NP
3. VP -------- V
4. VP -------- V + NP
V 16
Apabila kita
perhatikan stuktur frasa kedua bahasa di atas cukup berbeda. Yang menonjol
dalam bahasa Jepang adalah terdapat Aux pada S dan VP, terdapat urutan
terbalik dengan bahasa Inggris pada struktur VP, dan adanya Pmo pada stuktur
NP, sedangkan dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia tidak ditemukan urutan
seperti itu. Daftar Pustaka Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum.
Jakarta : Rineka Cipta.
Dahidi, Ahmad. 2000. “Struktur Frasa dalam
Bahasa Jepang” dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Jepang FPBS
Universitas Indonesia.
Inoue Wako. 1976. Henkei bunpo to Nihongo (Jo.
Ge) „Tatabahasa Transformasi dan Bahasa Jepang‟ (Edisi 1 & Edisi 2)
Taishukan Shoten. Kageyama Taro. 1980. Nichie Hikaku Goi no Koozoo.
„Studi Konstrastif Kosakata Bahasa Jepang – Bahasa Inggris‟. Tokyo :
Matsuhakusha. Kindaichi Haruhiko. 1957. Nihongo.‟ Bahasa Jepang‟. Tokyo
: Iwanami Shoten. Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik.
Jakarta : Gramedia. Koizumi, Tamotsu. 1993. Nihongo Kyooshi no Tame no
Gengogaku Nyuumon. „Pengantar Linguistik Bagi Para Calon Guru Bahasa
Jepang‟ Tokyo: Taishukan Shoten. ______, 1990. Gengogaku Nyuumon.
„Pengantar Linguistik‟. Tokyo: Taishukan Shoten. Kuno Susumu. 1973. Nihon
Bunpoo Kenkyuu ; Studi Gramatika Bahasa Jepang‟. Tokyo : Taishukan. Lyons,
John. 1968. Introduction to Theoretical Linguistics. New York :
Cambridge Press. ( Edisi Bahasa Indonesia terjemahan I. Soetikno. 1995. Pengantar
Teori Linguistik. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.). Nishida, Tatsuo. et.
al. 1986. Gengogaku o Manabu Hito no Tame ni „Bagi Orang-orang yang
Belajar Linguistik‟. Tokyo : Sekai Shisooka. Okutsu, Keiichiro. 1996. Seisei
Nihongo Bunporon „Gramatika Bahasa Jepang - kajian Transformasi Generatif,
Tokyo : Taishukan Shoten. Radford, Andrew. 1988. Transformational Grammar.
Cambridge University Press. Shibatani Yukio. 1997. Nihongo no Bunseki „Analisis
Bahasa Jepang‟. Taishukan Shoten. 17
Samsuri. 1987. Analisa Bahasa. Jakarta:
Erlangga. Shibatani, Masayoshi. 1983. Gengo no Koozoo. „Stuktur Bahasa‟.
Tokyo: Kuroshio Shuppan. Silitonga, Mangasa. 1990. “Tata Bahasa
Transformasional Sesudah Teori Standar”, dalam PELLBA 3, Jakarta :
Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya. Sutjaja, I Gusti Made. 1990. “ Perkembangan
Teori M.A.K. Halliday‟ dalam PELLBA 3. Jakarta : Lembaga Bahasa Atma
Jaya. Teramura, Hideo. 1982. Nihongo no Sintakusu I „ Sintaksis Bahasa
Jepang I‟ Tokyo : Kuroshio Shuppan. _________, 1984. Nihongo no Sintakusu II
„ Sintaksis Bahasa Jepang II‟ Tokyo Kuroshio Shuppan. _________, 1986. Nihongo
no Sintakusu III „ Sintaksis Bahasa Jepang III‟ Tokyo Kuroshio Shuppan.
Tanaka, Harumi. et.al. 1978. Gengogaku no Susume „Perkembangan
Linguistik‟. Tokyo: Taishukan Shoten. Tsujimura, Natsuko. 1997. Japanese
Linguistics. Hong Kong: Blackwell Publishers Verhaar, J.W.M. 1999. Asas-asas
Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Struktur
kalimat bahasa jepang
Pola:
Subjek + Keterangan + Objek + Kata kerja
Pola kalimat dalam bahasa jepang berbeda dengan pola
kalimat dalam bahasa Indonesia.Pola kalimat dalam bahasa jepang yaitu
Subjek-Objek-Predikat ,sedangkan pola kalimat dalam bahasa Indonesia yaitu
Subjek-Predikat-Objek.Dalam bahasa jepang apabila ada kata keterangan maka kata
tersebut diletakkan setelah subjek atau sebelumnya.
Contoh
dalam kalimat:
1. 私は帰ります
Watashi
wa kaerimassu
I
back home
Saya
pulang
2. 私は御飯を食べます
Watashi
wa gohan wo tabemasu
I
eat rice
Saya
makan nasi
3. 私は教室でべんきょうします
Watashi
wa kyoushitsu de benkyou shimasu
I
study in the class room
Saya
belajar dikelas
4. 私はレストランでたこ焼をたべます
Watashi
wa resutoran de takoyaki wo tabemasu
I
eat takoyaki at restorant
Saya
makan takoyaki direstoran
5. 私はきのうレストランで日本の料理を食べました。
Watashi
wa kinou resutoran de nihon no ryouri wo tabemashita
I
ate japan food at restorant yesterday
Saya
makan makanan Jepang kemarin
Contoh
1: berpola Subjek + Predikat
Contoh
2: berpola Subjek + Objek + Predikat
Contoh
3: berpola Subjek + Keterangan +
Predikat
Contoh
4: berpola Subjek + Keterangan + Objek +
Predikat
Contoh
5: berpola Subjek + Keterangan waktu +
Keterangan tempat + Objek + Predikat
Untuk
contoh kalimat 5 kata keterangan waktu selain bisa diletakkan setelah subjek
juga bisa diletakkan sebelum subjek.Jadi kalimatnya jadi seperti ini:
~
きのう私はレストランで日本の料理をたべました。
Kinou watashi wa resutoran de nihon no ryouri wo
tabemashita.
Yesterday I ate japan food at restorant
Kemarin saya makan makanan jepang di
restoran
Perlu diperhatikan bahwa kalimat bahasa jepang
memiliki chiri kas ,yaitu selalu meletakkan kata kerja di akhir kalimat.Apabila
kalimat tersebut memiliki subjek yang diikuti kalimat transitif ( kata kerja
yang mengenai tindakan langsung / kata kerja yang memerlukan objek ) maka
sesudah Objek diberi partikel “O”. Untuk partikel “O” dan kalimat transitif
nanti akan dipelajari di posting berikutnya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar